-
Ketika Amy mulai mengenakan hijab pada awal 2019, ia sempat ragu. Ia tahu pilihannya mungkin akan mengundang pertanyaan dari orang-orang di sekitarnya, terlebih ia bekerja di lingkungan yang multikultural. Namun, Amy memilih untuk tetap mengenakannya. Ia tidak ingin menyembunyikan identitasnya sebagai seorang muslimah hanya karena khawatir dengan pandangan orang lain. Ia ingin tetap bekerja dengan baik, menjalani kesehariannya, sekaligus memegang teguh apa yang ia yakini.

Perjalanannya dimulai sejak tahun 2018 Bulan November, ia sebagai volunteer di Wetaskiwin Hospital. Minggu pertama, Amy masih datang tanpa hijab. Setelah kurang lebih seminggu, mulai menutup kepala dengan turban. Masa itu memang seperti proses baginya, sampai akhirnya 1 Januari 2019 ia memutuskan untuk berhijab sepenuhnya. Seiring waktu, justru banyak hal sederhana yang menguatkan pilihannya. Rekan kerja mulai terbiasa melihatnya berhijab, bahkan sesekali bertanya, “Hijab apa yang kamu pakai hari ini, Amy?”

Seorang pasien Indigenous pernah memberinya scarf peninggalan ibunya yang telah meninggal. Seorang pria asal Yunani juga memberikan scarf dari tokonya. Bahkan ketika Amy harus meninggalkan pekerjaannya sejenak untuk salat, pertanyaan yang dulu ia sampaikan dengan hati-hati, “Bolehkan aku izin 2 menit untuk salat?” perlahan berubah menjadi jawaban, “Tentu saja, kamu tidak perlu izin untuk melakukannya.” Hal-hal sederhana itu menjadi penguat bagi Amy untuk tetap menjalani keyakinannya.
Ketika Al-Ikhlas Centre mulai menjadi bagian dari perjalanan hijrahnya, Amy ikut terlibat dalam berbagai kegiatan masjid, mulai dari fundraising hingga kegiatan komunitas. Rekan-rekan kerjanya pun mulai melihat cerita yang ia bagikan di sosial medianya. Suatu hari, seorang perawat melihat foto Amy dan bertanya, “Amy, kamu sedang di mana di foto itu? Kamu terlihat sangat bahagia?” Amy menjawab dengan sederhana, “Aku di Masjid, Aku Bahagia.” Beberapa minggu kemudian, rekan-rekan kerjanya memberikan sebuah hadiah. Mereka mengumpulkan donasi bersama untuk Al-Ikhlas Centre dan menuliskan pesan di kartu ucapannya: “Ada perasaan seperti menemukan rumah di dalam sebuah komunitas, terutama ketika kita bersama-sama berjuang untuk mencapai tujuan yang sama. Perjuanganmu bersama komunitas ini akhirnya membuahkan hasil. Sekarang kamu punya rumahmu sendiri” Mereka juga menuliskan doa agar masjid itu menjadi “Tempat untuk berdoa, mencari ketenangan, dan tempat bernaung” bagi banyak orang dan generasi yang akan datang.

Bagi Amy, hadiah itu bukan sekadar pemberian. Ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di hati orang-orang di sekitarnya atau bagaimana mereka memandang pilihannya untuk tetap berhijab dan menjalankan keyakinannya. Di tengah kehidupan sebagai minoritas yang sering kali menghadapi stigma dan Islamophobia, Ia tetap berusaha untuk menjalani hidup dengan sebaik mungkin dan menunjukkan Islam dalam kesehariannya. Dan ternyata apa yang ia jalani perlahan terlihat oleh orang lain. Amy belajar bahwa kita tidak pernah tahu bagaimana pilihan kita untuk tetap berada di jalan Allah dapat menguatkan diri sendiri, sekaligus menyentuh hati orang lain. Karena itu, ia memilih untuk terus memegang keyakinannya dan menjalani Islam dengan sebaik-baiknya.
Bagi Amy, Al-Ikhlas Centre menjadi rumah dalam perjalanan hijrahnya. Bukan hanya tempat untuk salat, tetapi tempat untuk menguatkan iman, bertemu saudara seiman, dan merasakan bahwa di tengah kehidupan jauh dari tanah air, ia tidak sendirian. Bahkan orang-orang di sekitarnya bisa melihat dan merasakan bahwa masjid itu telah menjadi sesuatu yang begitu berarti baginya.

Inilah salah satu manfaat dari hadirnya sebuah masjid di tengah kehidupan Muslim di tanah perantauan. Ia memberi ruang untuk menjaga keyakinan, menemukan kebersamaan, dan memiliki tempat untuk kembali. Al-Ikhlas kini terus dihidupkan, menjadi tempat salat, belajar, berkumpul, dan menguatkan hati. Semoga setiap salat, ilmu, pertemuan, dan kebaikan yang tumbuh di dalamnya menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi seluruh pewakif.
Saat ini Cinta Quran Foundation terus membuka kesempatan umat muslim sahabat Cinta Quran, baik di Indonesia maupun di mancanegara, untuk bisa berkontribusi dan terlibat dalam program mulia ini.
Sahabat Cinta Quran bisa mendukung program Wakaf Masjid Edmonton Kanada Cinta Quran dengan berdonasi (berwakaf) terbaiknya, melalui :
BSI 500 56 800 63
BCA 7175 3422 57
An. Yayasan Cinta Quran Global