Umrah untuk Guru Ngaji Kampung, Pemandi Jenazah, Penggali Kuburan, Marbot Masjid dan Penjaga kuburan di Pedalaman Kalimantan - Ajakan Kebaikan bersama Ayahman

Umrah untuk Guru Ngaji Kampung, Pemandi Jenazah, Penggali Kuburan, Marbot Masjid dan Penjaga kuburan di Pedalaman Kalimantan - Ajakan Kebaikan bersama Ayahman

Semoga infaqnya menjadi wasilah Allah berangkatkan kita ke Baitullah di waktu terbaik dengan cara cara terbaik bersama orang orang tersayang

Dana tersedia
Rp 20.108.632

Tentang Program


Mereka adalah orang-orang yang selama ini berjuang di jalan Allah (fiisabillah) namun keberadaannya luput dari pandangan kita, padahal mereka memiliki peran penting di dalam kehidupan. Mereka menjalani profesinya sudah puluhan tahun, ada yang 40 tahun dan bahkan ada yang 50 tahun hanya untuk mendakwahkan agama Allah (mengajar Quran) dan membantu orang disekitarnya seperti menggalikan kubur atau pun memandikan jenazah.

Ummi Dila

Ummi Dila

Berhasil mengajak 5 orang untuk berdonasi
Rp 1.202.172
Search App

Search App

Berhasil mengajak 13 orang untuk berdonasi
Rp 1.188.000
PP

Program Pilihan App

Berhasil mengajak 48 orang untuk berdonasi
Rp 1.149.178
fundraiser

Yuk jadi Fundraiser
program ini

Berita Terbaru

19 Sep 2025

Pencairan Dana Rp 10.910.324

InsyaAllah dana ini akan digunakan untuk keberangkatan Umroh Hamba Allah Istimewa dibulan Oktober tanggal 5 Oktober sampai dengan 13 Oktober 2025. Adapun penggunaan uangnya akan dijadikan uang untuk keperluang perlengkapan umroh untuk Hamba Allah Istimewa, Berikut adalah 8 orang Hamba Allah Istimewa yang akan diberangkatkan berserta dengan Latar belakangnya

Ustadz Thohir telah mengajar ngaji selama 14 Tahun sejak tahun 2006 di daerah serdam ujung (KORPRI) Sungai Raya Dalam Pontianak Kalimantan Barat. Beliau mengajar di rumah kecil dan sederhana setiap hari ba’da maghrib. Selain mengajar Qur’an, beliau juga mengajarkan Fiqih dasar. Sehari – hari beliau bekerja sebagai buruh / kuli bangunan. Meskipun pekerjaannya sebagai buruh bangunan tidak setiap hari ada, disisi lain beliau tetap tidak menarik tarif dari setiap santri yang diajarnya alias gratis.


Ustadz Cening sudah 14 Tahun menjadi guru ngaji Kampung total santri yang aktif belajar saat ini adalah 60 orang. Ramainya santri yang belajar tidak membuat beliau mengeluh sedikitpun, namun justru membuat beliau bahagia karena masih banyak santri yang memiliki tekad yang kuat belajar Al Qur’an. Dengan jumlah santri yang ramai, Ustadz Cening tidak memungut biaya sedikitpun alias gratis. Beliau mengajar dari pukul 13.30 hingga Ashar untuk Iqro dan dari ba’da maghrib hingga selesai untuk Al-Qur’an.

Selain padatnya jadwal mengajar ngaji, beliau juga berusaha mengerjakan amal sholeh lain demi menebar amal jariahnya. Beliau juga berprofesi amal lain yaitu sebagai petugas fardhu kifayah dan juga bekerja sebagai petugas kebersihan. Keinginan kuat untuk umroh sejak lama, membuat beliau berinisiatif membuat paspor terlebih dahulu meskipun tidak tahu kapan akan berangkat ke Baitullah. Beliau tetap berhusnudzan bahwa Allah punya cara terbaik untuk memberangkatkan dirinya ke Baitullah.


Bapak Husaini Beliau adalah seorang pemandi jenazah di daerah Pontianak Barat, kurang lebih sudah 21 tahun beliau menekuni profesi tersebut. Ustadz Husaini tidak hanya memandikan jenazah di daerahnya saja, namun juga sering diminta untuk memandikan jenazah di daerah-daerah lain di luar Pontianak Barat. Dikarenakan sering diminta untuk memandikan jenazah di tempat lain yg lumayan jauh dari rumahnya, sehingga beliau juga memberi pelatihan kepada pemandi jenazah di daerah lain. Tujuannya agar profesi amal ini tetap ada dan terus bergenerasi dikarenakan sekarang sangat sedikit orang yang mau memandikan jenazah. Beliau selalu memberikan semangat dan pemahaman kepada anggota yang lain, agar tidak berharap apa-apa terhadap amanah yang mereka lakukan ini. Selain memandikan jenazah, Ustadz Husaini juga bekerja merawat kebun pisang milik keluargnya. Namun ia tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan pisang yang dipanen nantinya. Ia hanya pergi ke kebun untuk merawat pisang milik keluarganya sekitar seminggu sekali.


Usztadz Sulaiman, seorang guru ngaji kampung; Di usianya yang sudah menginjak 78 tahun, tidak melunturkan semangatnya untuk mengajar dan memperoleh pahala jariyah dari setiap huruf yang dibaca oleh santri yang diajarnya. Silih berganti santri yang diajarnya, namun semangat mengajarnya tetap tinggi. Beliau mengatakan sangat senang ketika melihat santrinya berhasil dan lancar dalam mengaji.

Selain jadwal mengajar ngaji, beliau juga berusaha mengerjakan amal sholeh lain demi menebar amal jariahnya yaitu imam masjid dan marbot masjid. Tidak heran jika masyarakat sekitar kampungnya memanggil beliau dengan gelar “ Kyai Kampung “. Sejak 10 tahun lalu beliau sudah aktif sebagai Marbot dan Imam. Di usianya yang sudah sangat senja, beliau tetap semangat mengabdikan diri ke masjid. “Saya merasa senang ketika menyapu dan membersihkan lantai masjid agar kita dapat beribadah dengan nyaman” Ujar Ustadz Sulaiman.


Ustadz Ahmad mengajar ngaji sejak tahun 2001, untuk sementara saat ini santrinya berjumlah 51 orang. Awal mula mengajar ngaji adalah saat Ustadz Ahmad bingung karena tidak ada pekerjaan setelah maghrib, jadi beliau meminta izin mertuanya untuk mengajar adik iparnya. Lama kelamaan tetangga-tengga pun ikut ke rumah meminta untuk diajar ngaji oleh beliau.

Alhamdulillah sekarang sudah dibuatkan surau dibelakang rumahnya. Jadwal mengajarnya mulai dari ba’da maghrib hingga selesai. Banyak suka dan duka dialami beliau selama 20 tahun lebih mengajar ngaji. Mulai dari tidak dibayar, namun beliau tetap istiqomah mengajar dan tidak mempermasalahkan bayaran.

Keinginan kuat untuk umroh sejak lama, membuat beliau berinisiatif membuat paspor terlebih dahulu meskipun tidak tahu kapan akan berangkat ke Baitullah. Beliau tetap berhusnudzan bahwa Allah punya cara terbaik untuk memberangkatkan dirinya ke Baitullah.


Ustadzah Nurhayati tidak pernah pudar meskipun harus mengajar banyak santri. 70 orang santri bukanlah halangan untuk beliau dalam mengajarkan setiap huruf Al-Qur’an. Tidak hanya mengajar dirumah, beliau juga mengajar keliling kerumah-rumah santrinya. Sebenarnya beliau sudah mengajar sejak SD karena ibunya juga mengajar. Saat itu beliau sangat bahagia mengajar meskipun belum saat itu belum punya ilmu.

Saat ini beliau mengajar ngaji mulai dari ba’da ashar hingga ba’da isya. “ Alhamdulillah, saya sangat bahagia. Allah memberikan semua ini untuk saya jalani dan semoga saya mampu untuk menjaga dan merawat semua yg Allah titipkan kepada saya. Aamiin.. Karena Allah yg punya semuanya, saya hanya menjalani saja “ Ujar beliau ketika ditanya tentang profesinya sebagai guru ngaji. Selain itu beliau mengaku juga senang bisa berbagi ilmu. Ustadzah Nurhayati berharap mudah-mudahan kedepannya Allah kasi kesempatan, kemampuan, bimbing untuk tetap istiqomah ngajar dan memandikan jenazah. Tidak hanya anak-anak tp juga ibu-ibu yg datang kerumahnya, beliau membagi waktu mengajar antara anak-anka dan ibu-ibu.


Ustadzah Hawati berusia 61 tahun. Usia halangan untuk Ustadzah Hawati untuk terus menebar pahal jariahnya. Tidak hanya mengajar ngaji, beliau juga menjadi petugas fardhu kifayah di kampungnya. Saat ini beliau mengajar santri 25 orang termasuk anak-anak dan lansia. Jam mengajarnya dari ba’da dzuhur hingga ashar dilanjut malam hari dari ba’da maghrib hingga isya.

Ustadzah Hawati juga mengajar muallaf yang berjumlah 15 orang. Beliau mengajar setiap hari senin dari ba’da dzuhur hingga selesai. “ Anak-anak dapat mempunyai teman yang baik, lingkungan yang bagus dan dapat mengkhatamkan setiap santrinya “. Ujar Ustadzah Hawati ketika ditanya apa yang membuat semangatnya mengajar hingga usia 61 tahun.



Ustadzah Sri Restuti adalah seorang guru ngaji maupun tokoh masyarakat di sekitar rumahnya, selain mengajar ngaji, beliau juga ditunjuk sebagai Ketua RT di lingkungan sekitar rumahnya. Hal ini tidak lepas karena dirinya yang aktif baik dalam mengajar ngaji maupun membaur dengan masyarakat.

Beliau sudah mengajar ngaji selama ± 25 tahun dengan santri yang diajar saat ini sebanyak 30 orang. Ia membagi jam mengajarnya di rumah menjadi 3 sesi. Sesi pertama pukul11.30, sesi kedua pukul 13.00 dan sesi yang terakhir pukul 15.00 hingga 18.00. “ Alhamdulillah saye merase sangat dihargai dan di perhatikan dijadikan HAI. Karena selama ini profesi saya dipandang sebelah mata dan saya juga banyak belajar atas apa yang salah dan kurang dari diri saya ini. Setiap bulannya saya selalu berkumpul bersama orang-orang baek dari profesi yang berbeda dan dengan berharap Ridha Allah SWT “ ujarnya.

Demikian rencana penggunaan anggaran ini kami buat, Semoga Allah Mengabulkan Segala Niat Baik dengan Cara – Cara Terbaik. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


HA

Hamba Allah

21 jam yang lalu

Rp 10.000

HA

Hamba Allah

21 jam yang lalu

Rp 1.000

HA

Hamba Allah

23 jam yang lalu

Rp 2.000

HA

Hamba Allah

1 hari yang lalu

Rp 1.000

HA

Hamba Allah

1 hari yang lalu

Rp 2.000