“Ma, kita tidur di mana malam ini? Rumah kita sudah roboh…”
Pertanyaan polos itu barangkali sedang membisik di ratusan tenda darurat malam ini. Hari Selasa (16/6) yang tenang seketika berubah menjadi mencekam ketika gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 6,7 mengguncang wilayah Sulawesi Tengah. Hanya dalam hitungan detik, guncangan dangkal sedalam 10 km tersebut meluluhlantakkan ruang aman tempat anak-anak bertumbuh.
Hingga saat ini, trauma mendalam masih menggelayuti benak warga. Lebih dari 42 kali gempa susulan terus mengintai, memaksa mereka bertahan di bawah langit malam yang dingin, beralaskan terpal seadanya karena takut bangunan yang tersisa akan runtuh menimpa mereka.
Bencana ini telah meninggalkan luka fisik dan batin yang mendalam bagi saudara-saudara kita:
Kondisi di lapangan saat ini sangat memprihatinkan. Di tengah guncangan psikologis dan luka fisik yang diderita oleh puluhan korban, para penyintas kini harus menghadapi ancaman baru di posko pengungsian:
🚨 KRISIS AIR BERSIH TOTAL
Dampak gempa telah memutus total 2 titik jaringan air bersih utama di kawasan Kamarora A dan Kamarora B. Saat ini, ribuan pengungsi—termasuk bayi, anak-anak, dan lansia—berada dalam kondisi sangat rentan karena kesulitan mengakses air bersih untuk minum, memasak, dan sanitasi dasar.
Selain air bersih, mereka sangat membutuhkan bantuan darurat berupa:
Saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah tidak pernah meminta bencana ini datang. Hari ini rumah mereka yang roboh, besok bisa jadi harapan mereka yang runtuh jika kita memilih untuk menutup mata.
Sekecil apa pun kepedulian yang Anda berikan akan menjadi penyambung napas, penawar dahaga di tengah krisis air bersih, dan pelipur lara bagi anak-anak di tenda pengungsian. Mari bersama-sama kita kembalikan senyum dan harapan para penyintas gempa bumi Sulawesi Tengah.
Klik "DONASI SEKARANG" dan kirimkan bantuan terbaik Anda hari ini.