Tentang Program

Ikut Bangun Kembali Kampus dan Sekolah di Palestina

Cerita dari kehidupan kampus - Jalur Gaza

Blokade yang terjadi di Jalur Gaza selama lebih dari sepuluh tahun telah berkontribusi pada memburuknya kondisi ekonomi dan meningkatnya tingkat kemiskinan. Sudah tentu mencegah ribuan mahasiswa Palestina yang berada di Jalur Gaza untuk mengejar studi di universitas mereka.

Kampanye ini bertujuan untuk mendukung para siswa yang mengalami kebutuhan khusus (cacat) agar mereka dapat melanjutkan proses pendidikan. Diharapkan nantinya juga dapat meningkatkan peluang kondisi kehidupan mereka di masa depan juga membantu mereka menyelesaikan perjalanan pendidikan mereka sampai akhir.

Mengulas beberapa cerita pengalaman beberapa siswa yang telah terputus proses pendidikannya. Juga kondisi ekonomi yang sulit mereka hadapi, beberapa pencapaian dari ambisi mereka. Di sisi lain juga mengulas kisah sukses dan tantangan yang di alami oleh mereka.

Mahmoud Ziad Sharif adalah mahasiswa jurusan arsitektur di University College of Applied Sciences (Level II). Akibat pengepungan yang diberlakukan di Jalur Gaza selama lebih dari sepuluh Tahun menyebabkan Mahmoud yang saat itu berusia 20 tahun tidak dapat menyelesaikan studinya. Karena kondisi ekonomi yang buruk pada kuartal kedua Mahmoud tidak mampu membayar biaya pendidikan.

Rumah Mahmoud mengalami kerusakan pada saat perang Gaza terjadi sehingga membuatnya lebih sulit untuk menyelesaikan karir pendidikan. Namun seperti kebanyakan siswa yang tidak bisa membayar uang sekolah, Mahmoud tidak menyerah ia tetap bersikeras menghadiri kuliah dan menyelesaikan pelajaran tanpa pendaftaran resmi di universitas. Saat ini Mahmoud butuh sebuah keajaiban agar ia bisa membayar biaya kuartalan untuk diizinkan masuk ke ruang ujian pada akhir semester ini.

Warda Al-Mozainy dari University College of Applied Sciences salah satu universitas yang mengalami masa sulit di tengah kondisi ekonomi yang buruk juga blokade yang diterapkan. Menurut Warda kondisi seperti ini banyak menimpa mahasiswa Palestina, dimana kondisi pendapatan keluarga tidak dapat membayar biaya kuliah.

Jangankan untuk biaya kuliah, untuk menutupi kebutuhan sehari-haripun seperti biaya transportasi, buku juga alat tulis sulit terpenuhi. Kondisi ini kerap kali membuat Warda sering tidak bisa pergi ke kampus dikarenakan ia tidak memiliki ongkos untuk pergi ke kampus. Hal ini pula yang mempengaruhi pencapaian ilmiahnya di kampus bahkan mengancamnya untuk putus kuliah.

Ahmad Khalid seorang mahasiswa berumur 20 tahun yang belajar di Universitas College of Applied Sciences, bukan rahasia bahwa situasi ekonomi yang sulit, kondisi hidup yang buruk dan kurangnya kesempatan kerja di Jalur Gaza membuat semua pendidikan semakin sulit. Tidak terpenuhinya persyaratan hidup dasar minimum, seperti pakaian juga transportasi untuk pergi ke universitas akibat kondisi hidup yang sulit, Ahmed takut dia tidak akan bisa menyelesaikan studinya.

Ola Halabi merupakan gadis berusia 22 tahun yang mengalami tuna rungu juga tuna wicara. Ola menantang keterbatasannya dengan tekad dan kemauan yang keras. Kekurangan yang ia miliki tidak menjadi penghalang baginya untuk melanjutkan karir pendidikan demi merealisasikan mimpinya.Ketika Ola menyelesaikan sekolah menengahnya, Ola sadar bahwa ini adalah tahap terakhir dalam kehidupan pendidikannya. Semua itu karena Ola adalah seorang gadis tunarungu meskipun ambisinya lebih besar, namun kenyataan yang dihadapinya harus membuat Ola berhenti pada tahap ini.

Tetapi setelah beberapa waktu Ola mengetahui bahwa Universitas Islam di Jalur Gaza akan membuka ijazah profesional untuk Proyek Pendidikan Tuna Rungu, adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidup Ola. Saat mengetahui kabar baik ini bukan tidak mungkin untuk Ola dapat mencapai ambisinya dan menjadi sama sederajat dengan siswa yang sehat lainnya.

Universitas Islam Gaza saat ini menjadi sinar harapan yang memberi Ola kesempatan untuk belajar bagi kepentingannya sendiri. Ola menikmati pengembangan keterampilan sehari-harinya di bidang desain dan grafis. Kesempatan ini menempatkannya di jalur tantangan dan membuka pintu baru untuknya hidup di dunia Profesional kelak.

Hanan Ahmed Abu Aida gadis cantik berusia 24 tahun yang menyelesaikan gelar sarjananya di Universitas Islam di Gaza. Hanan lulus dari Jurusan Bahasa Inggris di Fakultas Seni dan kemudian menerima Diploma Pengajaran Bahasa Inggris Pusat Teknologi di Universitas Islam di Gaza.

Saat ini Hanan membantu banyak siswa dengan menyediakan buku cetak Braille juga menyediakan komputer untuk membuat kehidupan kampus lebih mudah. Hanan bekerja sebagai pelatih untuk mengajarkan dasar-dasar bahasa Inggris. Hanan sangat berharap bisa mendapatkan gelar Master dan PhD, karena ia memiliki keinginan menjadi penerjemah juga menjadi seorang jurnalis dan masih banyak lagi harapan yang ingin Hanan capai.

Butuh sebuah keajaiban agar Mahmoud dan mahasiswa lainnya bisa melanjut kan proses pendidikannya. 

Mari sahabat,

bersama saling merangkul menjadi bagian dari Keajaiban itu. Jangan kita biarkan akibat penjajahan terus-menerus menjadi penghalang bagi mereka untuk bisa menggapai cita-cita mereka, karena merekalah yang akan membangun masa depan di tanahnya para nabi dan rasul, yaitu tanah Palestina.

Sahabat bisa menyalurkan donasi terbaiknya dengan cara :

  1. 1. Klik "DONASI SEKARANG"
  2. 2. Masukkan nominal donasi
  3. 3. Pilih metode pembayaran
  4. 4. Lanjutkan pembayaran

Semoga dengan kebaikan sahabat untuk terus membantu Palestina akan menjadi sumber turunnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala di akhirat kelak.

Salam hangat,

KNRP

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman program ini adalah milik lembaga (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Amalsholeh.com.
Apakah penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan